Kamis, 30 April 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pada dasarnya pupuk hayati berbeda dengan pupuk  anorganik, seperti Urea, SP 36, atau MOP sehingga dalam aplikasinya tidak dapat menggantikan seluruh hara yang dibutuhkan tanaman. Produk tersebut memiliki bahan aktif yang mampu menghasilkan senyawa yang berperan dalam proses pelarutan hara dalam tanah. Fungsi senyawa tersebut yaitu membantu penyediaan hara dari udara dan mematahkan ikatan-ikatan yang menyebabkan unsur hara tertentu tidak tersedia bagi tanaman. Melalui mekanisme tersebut penyediaan unsur hara bagi tanaman akan meningkat.
Sejumlah bakteri penyedia hara yang hidup pada rhizosfir akar (rhizobakteri) disebut sebagai rhizobakteri pemacu tanaman (plant growth-promoting rhizobacteria=PGPR). Kelompok ini mempunyai peranan ganda di samping (1) menambat Njuga; (2) menghasilkan hormon tumbuh (seperti IAA, giberelin, sitokinin, etilen, dan lain-lain); (3) menekan penyakit tanaman asal tanah dengan memproduksi siderofor glukanase, kitinase, sianida; dan (4) melarutkan P dan hara lainnya.
            Peranan pupuk hayati dalam pertanian di bidang pengaplikasiannya memang tidak secara langsung kita ketahui, karna dalam pengaplikasiannya terdapat didalam tanah. Penggunaan pupuk hayati sangat jarang dilakukan oleh para petani, dikarenakan rumitnya teknologi dalam pengaplikasiannya ke tanah maupun tanaman. Dalam penggunaan pupuk hayati ini kita juga harus memperhatikan masa kadaluarsa dari pupuk ini. Mikroba yang terdapat didalmnya dapat berpengaruh pada saat pemberian ke tanah. Pada media yang bagus, mikroba dapat hidup dalam waktu lama yaitu kurang lebih satu tahun, sebaliknya jika media yang digunakan oleh mikroba tersebut tidak bagus maupun tidak pas, maka  mikroba yang hidup didalamnya hanya bisa bertahan hidup dalam hitungan hari ataupun bulan saja.

1.2  Rumusan Masalah
1.   Apa yang dimaksud dengan pupuk hayati ?
2.   Bagaimana mekanisme kerja pupuk hayati ?
3.   Bagaimana  Bakteri BradyRhizobium Japonicum dan Peranannya Pada Tanaman Kedelai ?
4.   Bagaimana  Efektivitas Nodulasi Rhizobium Japonicum Pada Kedelai ?


1.3  Tujuan

1.   Mengetahui  apa yang dimaksud dengan pupuk hayati
2.   Mengetahui mekanisme kerja pupuk hayati
3.   Mengetahui Bakteri BradyRhizobium Japonicum dan Peranannya Pada Tanaman Kedelai
4.   Mengetahui Efektivitas Nodulasi Rhizobium Japonicum Pada Kedelai













BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pupuk Hayati
Pupuk hayati didefinisikan sebagai inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman. Memfasilitasi tersedianya hara ini dapat berlangsung melalui peningkatan akses tanaman terhadap hara misalnya oleh cendawan mikoriza arbuskuler, pelarutan oleh mikroba pelarut fosfat, maupun perombakan oleh fungi, aktinomiset atau cacing tanah. Penyediaan hara ini berlangsung melalui hubungan simbiotis atau nonsimbiotis. Kelompok mikroba simbiotis ini terutama meliputi bakteri bintil akar dan cendawan mikoriza. Penambatan N2 secara simbiotis dengan tanaman kehutanan yang bukan legum oleh aktinomisetes genus Frankia di luar cakupan buku ini. Kelompok cendawan mikoriza yang tergolong ektomikoriza juga di luar cakupan baku ini, karena kelompok ini hanya bersimbiosis dengan berbagai tanaman kehutanan. Kelompok endomikoriza yang akan dicakup dalam buku ini juga hanya cendawan mikoriza vesikulerabuskuler, yang banyak mengkolonisasi tanaman-tanaman pertanian.
              FNCA Biofertilizer Project Group (2006) mengusulkan definisi pupuk hayati sebagai substans yang mengandung mikroorganisme hidup yang mengkolonisasi rizosfir atau bagian dalam tanaman dan memacu pertumbuhan dengan jalan meningkatkan pasokan ketersediaan hara primer dan/atau stimulus pertumbuhan tanaman target, bila dipakai pada benih,permukaan tanaman, atau tanah.Pengertian pupuk hayati pada buku ini lebih luas daripada istilah yang dikemukakan oleh Subha Rao (1982) dan FNCA Biofertilizer Project Group (2006).Mereka hanya membatasi istilah pupuk hayati pada mikroba, sedangkan istilah yang dipakai pada buku ini selain melibatkan mikroba juga makrofauna seperti cacing tanah.Bila inokulan hanya mengandung pupuk hayati mikroba, inokulan tersebut dapat juga disebut pupuk mikroba (microbial fertilizer) (Cattelan et al., 1999; Glick et al., 1995; Kloepper, 1993; Kloepper et al., 1991).
 Fungsi dari pupuk hayati :
a)            Soil Regenarator = Pembangkit kembali kehidupan tanah
b)            Feeding the soil that feed the plant = memberikan makanan pada tanah selanjutnya tanah akan memberi makanan pada tanaman.
            Penggunaan pupuk hayati dalam meningkatkan produksi tanaman sangat menguntungkan dan menghasilkan, hal ini dikarenakan pengaruh yang diberikan oleh mikroba-mikroba tersebut ke tanaman sangat sesuai, sehingga membuat tanaman dapat tumbuh baik dan menghasilkan produksi yang maksimal. Seperti kita contohkan yaitu pada produksi tanaman padi dan jagung. Pada salah satu penelitian yang telah ada, dilihat dari perkembangan tanaman, pupuk hayati yang didalmnya mengandung mikroorganisme bacillus sp, azetobacter sp dan pseudomonas sp telah memberikan perngaruh baik dalam peningkatan biji, akar, serta pertumbuhan tingga dari tanamn jagung dan padi, dibandingkan dengan tanaman yang hanya diberi perlakuan control. Hal ini menunjukkan bahwa pupuk hayati memberikan pengaruh positf bagi tanaman.
2.2 Mekanisme Kerja Pupuk Hayati
            Bentuk-bentuk inokulan pupuk mikroba yang biasa digunakan adalah biakan agar, biakan cair, biakan kering, biakan kering beku, dan tepung. Inokulan yang digunakan secara luas di lapangan adalah yang berbentuk biakan cair dan tepung. Untuk memudahkan aplikasi dilapangan diperlukan bahan pembawa (carrier). Sebagai bahan pembawa inokulan tepung, dapat digunakan bahan organik seperti gambut, arang, sekam, dan kompos. Untuk bahan pembawa anorganik digunakan bentonit, vermikulit, atau zeolit.
            Petani menggunakan pupuk mikroba dengan harapan dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman pada tingkat biaya yang rendah melalui penghematan tenaga kerja dan pupuk kimia. Namun, sering dijumpai bahwa pupuk mikroba yang dijual tidak menunjukan sifat mikrobiologis, artinya mikroorganisme yang terdapat dalam produk tersebut tidak dapat di identifikasi dan komposisinya tidak sesuai dengan yang tertera pada label kemasan. Banyak produk tersebut diiklankan seolah-olah dapat menyelesaikan semua masalah yang dihadapi petani.
            Pupuk mikrobiologis bukanlah pupuk biasa yang secara langsung meningkatkan kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi ke dalam tanah. Pupuk mikrobiologis menambahkan nutrisi melalui proses alami, yaitu fiksasi nitrogen atmosfer, menjadikan fosfor bahan yang terlarut, dan merangsang pertumbuhan tanaman melalui sintesis zat-zat yang mendukung pertumbuhan tanaman. Mikroorganisme dalam pupuk mikrobiologis mengembalikan siklus nutrisi alami tanah dan membentuk material organik tanah. Melalui penggunaan pupuk mikrobiologis, tanaman yang sehat dapat ditumbuhkan sambil meningkatkan keberlanjutan dan kesehatan tanah.
1.      Mengikat Nitrogen (N) yang melimpah di udara (74%), sehingga N tersedia bagi tanaman.
2.      Mengikat Pospor (P) dan Kalium (K) yang banyak terdapat di tanah, sehingga P dan K tersedia bagi tanaman.
3.      Mengeluarkan zat Pengatur Tumbuh (Z.P.T) yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
4.      Menguraikan sisa-sisa limbah organik tanah untuk dijadikan sumber nutrisi tanaman.
5.      Mengendalikan penyakit tanaman karena berisi mikroorganisme antagonis terhadap tanaman.
                               



2.3 Bakteri BardyRhizobium japonicum dan Peranannya Pada Tanaman
       Kedelai
Djubar P. dan Suprapto, S, 1985. Menjelaskan, Rhizobium adalah sejenis bakteri yang mampu mengadakan kerjasama dengan tanaman legume dengan membentuk bintil-bintil akar dan mampu memfiksasi nitrogen bebas di udara sehingga bisa diserap oleh tanaman legume. Kemampuan tanaman kedelai menggunakan N yang berasal dari tanah, pupuk, dan udara (melalui simmbiosis dengan bakteri Rhizobium japonicum. Di lahan yang tidak ditanami kedelai lebih dari 5 tahun, tanamlah varietas yang dapat membentuk bintil akar dengan rhizobium local. Perlakuan benih dengan kultur bibit rhizobium dapat meningkatkan pembentukan bintil akar pada semua varietas.
Kedelai menghendaki unsur hara yang cukup, pH tanah yang netral (5,5 – 6,5). Rhizobium japonicum (Bakteri) yang di inokulasikan pada benih, Peranan : mampu memenuhi sepertiga (74 %), kebutuhan nitrogen, Amonium yang dihasilkan oleh  rhizobium tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman, sebaliknya rhizobium mengambil karbohidrat, protein, dab oksigen yang dihasilkan tanaman untuk hidup dan berkembang biak.





                                Gambar 1. Peranan Rhizobium Pada Kedelai
Andrew (1963), mengemukakan bahwa fosfor mempengaruhi fiksasi N melalui pertumbuhan inang. Pertumbuhan yang baik akibat ketersediaan P yang cukup menyebabkan rhizobium dapat hidup dan berkembang sehingga proses fiksasi N dapat berlangsung dengan baik. Semakin tinggi serapan P akan semakin tinggi serapan fiksasi N2 dari udara, hal ini P yang diserap oleh tanaman dimanfaatkan sebagai sumber energy oleh Rhizobium.


Christinansen dan Graham (2002) Nitrogen : merupakan unsure yang paling
membatasi pertumbuhan tanaman, bentuk utama N tersedia dalam tanah adalah ion-ion Nitrat (NO-3) dan ammonium (NH+4). Ion Nitrit (NO2) dapat digunakan tanaman, tetapi cenderung tidak stabil dan bersifat toksik dalam jumlah yang tinggi. N udara masuk dalam tanah melalui (kilat, hujan) dan mikrobia pengikat N (simbiotik, non simbiotik) dan penambahan N lewat pemupukan dan penambahan variasi (dari tanaman itu sendiri). N dalam tanah akan erosi, pengambilan tanaman dalam bentuk (NH+4) diubah menjadi (NO-3) dan denitrifikasi (keudara) 40-50 %.
Yusdar Hilman (2005), menegaskan bakteri terdapat pada nodul-nodul akar kedelai akan memfiksasi N dari atmosfer. Tanaman kedelai menggunakan residu Nitrat dan N secara efektif hasil perombakan BO tanah. Kebutuhan unsur N dan air terbanyak pada fase pengisian polong.
Boonkerd et al. (1978), melaporkan kegagalan inokulasi rhizobium di lapang
dapat disebabkan oleh alam yang lebih besar atau menurunnya viabilitas mikroba yang diinokulasikan akibat tekanan lingkungan. Tampaknya fenomena tersebut berlaku pula untuk inokulum Rizoplus yang mengandung mikroba penambat N dan pelarut P.
Hidayat,(1985), berpendapat bahwa nodul pertama dapat dilihat setelah pada
umur 5-7 hari setelah kecambah. Jumlah dan berat nodul pada tanaman akan meningkat selama fase pertumbuhan vegetatif, dan mencapai maksimal mendekati akhir pembungaan.
Yutono,(1985), mengemukakan bahwa bintil akar yang efektif adalah dinilai dari adanya warna merah, enzim nitrogenase dan leghemoglobin di bentuk oleh bakteroid, dua komponen tersebut yang terlibat dalam proses fiksasi N2. Strain bakteri Rhizobium pada kedelai adalah jenis Rhizobium japonicum (Hidayat, 1985), inokulasi sangat penting, terutama pada tanah yang belum pernah Peranan : mampu memenuhi sepertiga (74 %) kebutuhan nitrogen. Amonium yang dihasilkan oleh rhizobium tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman, sebaliknya rhizobium mengambil karbohidrat, protein, dan oksigen yang dihasilkan tanaman untuk hidup dan berkembang biak.
Rhizobium japonicum ditanami tanaman legume. Bakteri Rhizobium, mampu bertahan dalam tanah beberapa tahun dan menodulasi tanaman legume berikutnya. Agar bakteri Rhizobium tetap aktif, inokulum harus disimpan ditempat yang sejuk dan tidak kena cahaya matahari langsung.
Yutono (1985), bahwa pemberian dalam bentuk ammonium atau Nitrat mengurangi bintil akar dan fiksasi N2 oleh bintil akar. N dari anorganik dalam jumlah
kecil diperlukan, sebelum tanaman mengandalkan Nitrogen dari hasil fiksasi N2 oleh
bintil akar. Nitrat dari pupuk anorganik akan mengganggu terbentuknya benang-benang infeksi Rhizobium, pemberian N 20 Kg/ha mampu meningkatkan fiksasi N, selebih dari itu jumlah bintil terbentuk akan menutun.
Suryantini (2004), melaporkan Pada lahan kering ada interaksi nyata antara pupuk P dan Rhizoplus, pada pH netral, penelitian di tanah sawah penggunaan Rhizoplus dengan takaran anjuran 5 gram/kg benih ternyata belum mampu
meningkatkan hasil biji kedelai.
Pasaribu dkk(1985), menyatakan setiap 1000 gram biji kedelai terkandung 60-70 gram N (sehingga N digunakan lebih besar dari pada tanaman lainnnya). N berasal dari tanah, pupuk dan N udara melalui simbiosis dengan bakteri Rhizobium dengan bintil akar.
R.K. Panday. 1994, Bintil akar adalah gelembung kecil pada akar kedelai. Di dalam bintil tersebut. Bintil akar berkembang dengan baik dan aktif jika : tanah mengandung Rhizobium japonicum, kandungan nitrogen tanah rendah, tanah tidak terlalu asam atau basa pH antara 5,5 dan 6,5, tanah mengandung air dan unsure hara
yang cukup, terutama pospor, tanaman mendapat cukup sinar matahari dan suhu udara 20-30 oC.
Suryatini, 2012, Inokulasi tidak selalu berhasil karena adanya Rhizobium indigenious atau rhizobium lokal. Rhizobium inokulasi berkompetisi dengan Rhizobium indigonous, dalam bentuk kerapatan populasi dan efektifitas. Rhizobium indigenous atau rhizobium lokal adalah rhizobium yang terdapat secara alami di satu lokasi, dengan katalin tidak melalui inokulasi. Rhizobium indigenous hidap saprofit bila tidak terdapat tanaman kacang-kacangan inangnya. Tanah yang sering ditanami kedelai mempunyai populasi rhizobium lebih tinggi dibanding tanah yang tidak pernah atau lama tidak ditanami kedelai. Daya saing untuk membentuk bintil dari rhizobium merupakan salah satu sifat penting, strain rhizobium harus berkompetisi dengan strain lain dilingkungan rhizosfir untuk mendapatkan tempat membentuk bintil akar (Blanco et al, 2010).
Kompetisi dipengaruhi oleh interaksi antara faktor tanah, sifat gentik tanaman inang dan rhizobium simbion. Tanah beriklim kering umumnya sedikit mengandung rhizobium, sedangkan yang curah hujannya tinggi dengan vegtasi banyak dan kacang-kacangan mengandung rhizobium tinggi. Bekas tanah tanaman kedelai populasi rhizobium lebih tinggi, sekitar 1,7 juta cfu/g tanah. Mampu menghasilkan bintil dengan jumlah 5-30 bintil/tanaman, bekas tanah non kedelai yang hanya 1-10 bintil/ tanaman.
                                Gambar 2. Rhizobium japonicum dan Kedelai
Abdullah ,T dan Titik, S. 2012 Bakteri dapat hidup dlam oksigen terbatas (anaerob) maupun pada kondisi kaya oksigen (aerob). Waktu terjadinya infeksi sampainya terjadi bintil sekitar 7 hari. Fiksasi N dimulai pada saat tanaman umur sekitar 25-30 hst. Amonium yang dihasilkan oleh rhizobiunm tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman, sebaliknya rhizobium mengambil karbohidrat, protein, dab oksigen yang dihasilkan tanaman untuk hidup dan berkembang biak.

2.4 Efektivitas Nodulasi Rhizobium Japonicum Pada Kedelai     
Sejak manusia menyadari manfaat simbiosis Rhizobium japonicum dengan tanaman kedelai dalam memfiksasi N bebas dari udara, penelitian-penelitian dalam bidang fiksasi N secara biologis terus berkembang. Penelitian penelitian tersebut dilakukan dalam rangka mencari alternatif sumber N sehubungan dengan meningkatnya pemakaian pupuk N di dunia. R. japonicum yang diketahui mampu memberikan sumbangan N dalam bentuk asam amino kepada tanaman kedelai mendapat perhatian yang besar dari para ahli. Inokulasi secara besar-besaran dilakukan di berbagai negara. Secara umum inokulasi dilakukan dengan memberikan biakan R. japonicum ke dalam tanah agar bakteri ini berasosiasi dengan tanaman kedelai mengikat N2 bebas dari udara. Seringkali tanah-tanah bekas tanaman kedelai baik yang diberi inokulasi maupun tanpa inokulasi dapat digunakan sebagai sumber inokulant. Hal ini dilakukan karena adanya anggapan bahwa pada tanah bekas tanaman kedelai akan tumbuh bakteri R. japonicum
Namun demikian tidak diketahui dengan pasti apakah Rhizobium tersebut efektif atau tidak. Sebab, efektivitas R. japonicum dalam tanah ditentukan oleh banyak faktor, seperti pH tanah, viabilitas R. japonicum di lapangan, dan daya saing bakteri Rhizobium itu sendiri dengan parasit bakteri yang dikenal dengan nama Rhizobiophage. Apabila ternyata bakteri R. japonicum itu sudah tidak efektif lagi, inokulasi tambahan perlu diberikan kepada tanah-tanah bekas tanaman kedelai tersebut. Oleh karena itu, sebuah penelitian untuk menguji efek sisa inokulasi R. japonicum dan inokulasi tambahan perlu dilakukan terhadap tanah-tanah bekas tanaman kedelai (Jutono, 1981).















BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
1.      Pupuk hayati didefinisikan sebagai inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman
2.      Pupuk mikrobiologis menambahkan nutrisi melalui proses alami, yaitu fiksasi nitrogen atmosfer, menjadikan fosfor bahan yang terlarut, dan merangsang pertumbuhan tanaman melalui sintesis zat-zat yang mendukung pertumbuhan tanaman
3.      Rhizobium adalah sejenis bakteri yang mampu mengadakan kerjasama dengan tanaman legume dengan membentuk bintil-bintil akar dan mampu memfiksasi nitrogen bebas di udara sehingga bisa diserap oleh tanaman legume
4.      Inokulasi secara besar-besaran dilakukan di berbagai negara. Secara umum inokulasi dilakukan dengan memberikan biakan R. japonicum ke dalam tanah agar bakteri ini berasosiasi dengan tanaman kedelai mengikat N2 bebas dari udara


Tidak ada komentar: