Tugas Agrohidrologi
HUBUNGAN
ANTARA
TANAH,
AIR DAN TANAMAN
Oleh :
KELOMPOK 5
HANDIKA
TASI (G11113068)
SUMIATI (G11113069)
HANIA (G11113070)
RATNASARI (G11113072)
KARMILA (G11113073)
SHOFLYAH
DWI CAHYANI (G11113075)
MUH.
DZULKIFLY ASHAN (G11113077)
FITRIANTI
(G11113078)
ARINDAH
UPIK MASITAH (G11113079)
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah
SWT yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh
kemudahan. Tanpa pertolongan-NYA mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikan
ini dengan baik. Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui lebih dalam
tentang Agrohidrologi, khususnya yang kami bahas disini Hubungan Tanah, Air dan
Tanaman.
Poin tersebut kami sajikan berdasarkan
pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh kami sendiri dengan
berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri kami maupun yang datang dari
luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah SWT
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Kami penulis pun menyadari makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan, namun semoga makalah ini dapat memberikan wawasan
yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini masih memiliki banyak
kekurangan.
Makassar, 8 Februari 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata
pengantar………………………………………………………………………...2
Daftar
isi………………………………………………………………………………3
Daftar
tabel…..……………………………………………………………………......4
Daftar
gambar…..…………………………………………………………………......5
Daftar
Lampian……………………………………………………………………...
I.
Pendahuluan………………………………………………………………………4
1.1 Latar
Belakang………………………………………………………………..4
1.2 Tujuan
Penulisan……………………………………………………………..4
II. Interaksi
komponen-komponen agrohidrologi berkaitan dengan produksi pertanian………………………………………………………………………….5
III. Hubungan
antara tanah, air dan tanaman pada berbagai kondisi wilayah……..…8
IV. Penutup
3.1 Kesimpulan…………………………………………………………….……10
3.2 Saran………………………………………………………………………...10
Daftar
Pustaka ………………………………………………………………………….
Daftar
Lampiran ………………………………………………………………………..
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah, air dan tanaman mempunyai
hubungan keterkaitan satu sama lain yang artinya bahwa masing-masing faktor
akan saling memberikan pengaruh bagi faktor yang lainnya. Ketiga faktor
tersebut akan membentuk suatu iklim mikro yang secara langsunng memberikan pengaruh
yang besar bagi kehidupan tanaman. Pertumbuhan tanaman akan sangat dipengaruhi oleh
keadaan tanah baik dalam sifat fisika maupun sifat kimia karena tanah merupakan
media pertumbuhan bagi tanaman dimana unsur hara dan air diserap untuk
menunjang pertumbuhannya. Air sendiri merupakan faktor yang mutlak dibutuhkan
bagi tanaman karena segala proses yang berlangsung dalam tanaman tidak bisa
berjalan tanpa adanya air.
Manajemen yang efektif dari sumber-sumber ini bagi
produksi tanaman memerlukan pemahaman hubungan diantara tanah, air, dan tanaman
bagi. Pengetahuan tentang lengas tanah tersedia dan tekstur tanah
akan lebih mudah membuat keputusan mengenai tanaman apa yang akan ditanam dan
kapan diairi. Tidak berbeda dengan makhluk hidup yang lainnya,
tanaman dapat tumbuh dan berkembang bila ada tanah, air, dan udara.
Tanah mudah dikerjakan
apabila tanah tersebut merupakan aluvial atau hasil pelapukan, sehingga tidak
keras dan tidak banyak mengandung batuan. Dengan keadaan tanah yang tidak keras
maka akan memungkinkan akar dapat tumbuh dan berkembang. Agar tanah mengandung
unsur hara, maka tanah harus memiliki pori tanah untuk menyimpan unsur hara. Tanah
menentukan bagaimana air irigasi harus dikelola. Jumlah air tanah dapat ditahan
oleh akar tanaman di dalam tanah. Jumlah air tanah ini dapat menentukan lamanya
waktu hidup tanaman dan air tanah tersebut dapat bertahan dengan bantuan
irigasi dan / atau curah hujan. Oleh Karena itu diperlukan perhatian khusus
terhadap hubungan tanah, air dan tanaman.
1.2 Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui interaksi komponen
agrohidrologi berkaitan dengan produksi pertanian
2.
Hubungan Tanah, air dan tanaman di
berbagai kondisi wilayah
II. INTERAKSI KOMPONEN-KOMPONEN AGROHIDROLOGI BERKAITAN
DENGAN PRODUKSI PERTANIAN
Agrohidrologi adalah
ilmu yang mempelajari distribusi dan pergerakan air dan larutan tanah ke dan
dari zone perakaran dilahan pertanian, dan dengan distribusi dan pergerakan air
irigasi, dan air permukaan dalam sistem perpindahan tersebut pada lahan
pertanian (Hanafiah, 2004).
Pertanian merupakan
salah satu sektor yang sangat bergantung pada iklim. Salah satunya adalah pemanasan
global yang mempengaruhi pola presipitasi, evaporasi, air permukaan (water
run-off), kelembaban tanah dan variasi iklim yang sangat fluktuatif yang secara
keseluruhan mengancam keberhasilan produksi pangan. Kajian terkait dampak
perubahan iklim pada bidang pertanian oleh National Academy of Science/NAS
(2007) menunjukkan bahwa pertanian di Indonesia telah dipengaruhi secara nyata
oleh adanya variasi hujan tahunan dan antartahun yang disebabkan oleh
Austral-Asia Monsoon and El Nino-Southern Oscilation (ENSO) (Delya,2011).
Pada interaksi
komponen-komponen agrohidrologi yang berkaitan dengan produksi pertanian antara
lain :
1. Drainase
Maksud drainase pada suatu lahan pertanian adalah
membuang air yang berlebih dari lahan pertanian supaya dapat ditanami dengan
usahatani. Membuang dapat dilakukan dengan saluran terbuka atau dipompa.
Drainase sangat membantu pertanian guna Untuk membuatan tanah dalam Field Kapasitas, dan udara cukup tersedia dalam
tanah
, meningkatkan Hidrolik Kapasiti,
dapat membentuk struktur tanah,
pada daerah kering sering
kelebihan garam, drainase dapat digunakan untuk mencuci mengurangi konsentrasi
garam
2. Irigasi
Irigasi merupakan upaya yang
dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Dalam dunia modern, saat ini
sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu,
jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau sumber
mata air, maka irigasi dilakukan dengan mengalirkan air tersebut ke lahan
pertanian. Namun demikian, irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa air
dengan menggunakan wadah kemudian menuangkan pada tanaman satu per satu. Untuk
irigasi dengan model seperti ini di Indonesia biasa disebut menyiram. Sebagaimana
telah diungkapkan, dalam dunia modern ini sudah banyak cara yang dapat
dilakukan untuk melakukan irigasi dan ini sudah berlangsung sejak mesir kuno.
Adapun fungsi dari
komponen agrohidrologi ini yaitu irigasi adalah memasok kebutuhan air tanaman menjamin ketersediaan air apabila
terjadi retakan, menurunkan suhu tanah, mengurangi kerusakan akibat frost,
melunakkan lapis keras pada saat
pengolahan tanah
Irigasi bertujuan untuk membantu para petani dalam mengolah
lahan pertaniannya, terutama bagi para petani di pedesaan yang sering
kekurangan air, dan untuk memenuhi produksi pertanian. Irigasi ini berguna juga
meningkatkan produksi pangan
terutama beras, meningkatkan
efisiensi dan efektifitas pemanfaatan air irigasi, meningkatkan intensitas tanam
buah,sayuran dan palawija, meningkatkan dan memberdayakan masyarakat desa dalam
pembangunan jaringan irigasi perdesaan
Kemarau panjang
menyebabkan kekeringan lahan yang berdampak terhadap proses pertumbuhan
tanaman. Sebaliknya, intensitas hujan yang tinggi menyebabkan ketidakmampuan
tanaman dalam menyerap air. Akibatnya, terjadi pembusukan pada akar tanaman
ataupun genangan air pada areal pertanaman yang tentunya akan menyebabkan gagal
panen. Penentuan musim tanam pun semakin sulit untuk diprediksi. Oleh karena
itu interaksi agrohidrologi sangat bergantung pada yaitu:
1.
Evaporasi
Evaporasi merupakan Air yang ada di laut, di
daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa
(atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan)
itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation)
dalam bentuk hujan, salju, es.
Kehilangan air melalui evaporasi mempunyai akibat
terhadap fisiologi tanaman secara tidak langsung seperti mempercepat penerimaan
kadar air pada lapisan atas dan memodifikasi iklim mikro disekitar tanaman.
Bagian air yang menguap dari tempat- tempat yang berlainan dalam suatu daun
mempunyai pengaruh besar terhadap gradian potensial air. Kandungan uap air di
atmosfir dipertahankan oleh samudra, badan air yang lebih di daratan tanah yang
lembab dan transpirasi dari tanaman-tanaman.
2. Infiltrasi
Infiltrasi
merupakan air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah
dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau
air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah
hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.
3. Air
Permukaan
Air
permukaan merupakan air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran
utama dan danau, makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka
aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya
pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai
utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju
laut.
4. Evapotranspirasi
Evapotranspirasi
adalah kombinasi proses kehilangan air dari suatu lahan bertanaman melalui evaporasi
dan transpirasi. Evaporasi adalah proses dimana air diubah menjadi uap air
(vaporasi, vaporization) dan selanjutnya uap air tersebut dipindahkan dari
permukaan bidang penguapan ke atmosfer (vapor removal). Evaporasi terjadi pada
berbagai jenis permukaan seperti danau, sungai lahan pertanian, tanah, maupun
dari vegetasi yang basah. Transpirasi adalah vaporisasi di dalam jaringan
tanaman dan selanjutnya uap air tersebut dipindahkan dari permukaan tanaman ke
atmosfer (vapor removal). Pada transpirasi, vaporisasi terjadi terutama di
ruang antar sel daun dan selanjutnya melalui stomata uap air akan lepas ke
atmosfer. Hampir semua air yang diambil tanaman dari media tanam (tanah) akan
ditranspirasikan, dan hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan tanam
III. HUBUNGAN ANTARA TANAH, AIR DAN
TANAMAN PADA BERBAGAI KONDISI
WILAYAH
Tanah merupakan media yang sangat penting bagi pertumbuhan
tanaman. Dalam tanah terkandung unsur-unsur yang diperlukan tanaman untuk
tumbuh. Komposisi tanah umumnya terdiri atas bahan mineral anorganik, bahan
organik, udara, dan air. Perbedaan kandungan kadar kimiawi tanah berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah.
Perbedaan jenis tanah menyebabkan perbedaan jenis dan
keanekaragaman tumbuhan yang hidup di suatu wilayah. Contohnya, di Nusa
Tenggara jenis hutannya sabana karena tanahnya yang kurang subur. Bandingkanlah
hutan yang subur di daerah pegunungan dengan hutan yang berada pada daerah yang
mengandung kapur atau tanah liat.
Air merupakan komponen yang dibutuhkan oleh makhluk hidup.
Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran
biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup
lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Keberadaan
air tergantung dari curah hujan yang ada di suatu wilayah. Daerah yang memiliki
curah hujan yang tinggi, keanekaragaman tanamannya lebih banyak dibandingkan
dengan daerah yang memiliki curah hujan rendah. Di daerah tropis, banyak
terdapat hutan lebat, pohonnya tinggi-tinggi, dan daunnya hijau sepanjang
tahun. Sedangkan di daerah gurun, keanekaragaman flora lebih sedikit.
Indonesia yang terletak di daerah beriklim tropis memiliki
jenis tanaman yang beraneka macam, subur, dan hijau sepanjang tahun. Hal ini
disebabkan curah hujan yang tinggi dan cukup sinar matahari. Berbeda dengan
daerah gurun hanya sedikit flora dan fauna yang sanggup menyesuaikan diri,
contoh: pohon kaktus yang dapat bertahan karena mampu menyimpan air dalam
batangnya. Begitu juga pada ketinggian suatu tempat menentukan jenis organisme
yang hidup di tempat tersebut. Daerah dengan ketinggian yang berbeda akan
memiliki kondisi fisik yang berbeda. Semakin tinggi suatu daerah, semakin rendah
suhu di daerah tersebut.
Setiap naik 10 meter suhu udara ratarata turun sekitar
0,5°C. Jadi, semakin rendah suatu daerah, semakin panas suhunya, dan sebaliknya
semakin tinggi suatu daerah, semakin dingin daerah tersebut. Perbedaan
ketinggian ini menyebabkan keanekaragaman persebaran hewan atau tumbuhan yang
ada di suatu wilayah.
Dalam
kaitannya dengan budidaya pertanian, tanah
adalah
tempat atau media dimana akar tanaman tumbuh dan menyerap air juga unsur hara.
Tanah tersusun dari 4 komponen utama yang antara lain bahan mineral, bahan
organik, air, dan udara.ke-empat bahan tersebut bersatu untuk kemudian
membentuk agregat tanah. Agregat yang terbentuk didalamnya pastilah terdapat
ruang pori yang dapat ditempati oleh air dan udara. Ruang pori tersebut dalam
istilah ilmu tanah dikenal dengan istilah pori tanah. Pori tanah
yang
berukuran kecil disebut pori mikro, sedangkan yang berukuran besar disebut pori
makro.
Air dan udara di dalam tanah sangat
membantu pertumbuhan tanaman, karena seperti kita ketahui bahwa tanaman dalam
berfotosintesis memerlukan ke dua dzat tersebut. Kendatipun demikian,
keberadaan air dan udara didalam tanah saling bersifat komplemen dan sangat
mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Tanah yang mengandung banyak air memiliki
kandungan udara yang sangat sedikit karena hampir semua pori tanah diisi oleh
air. Begitupun sebaliknya, tanah yang mengandung banyak udara akan memiliki
kandungan air yang sedikit pula. Komposisi air dan udara dalam menempati pori
tanah haruslah berimbang sesuai dengan kebutuhan jenis tanaman yang ditanam.
Dalam kaitannya dengan budidaya pertanian, hubungan
keterikatan antara air dan udara di dalam tanah mengenal 3 istilah penting yang
antara lain:
- Kondisi
jenuh air
- Kondisi
kapasitas lapang
- Kondisi
titik layu permanen
Kondisi alamiah dan manusia pada dasarnya memiliki hubungan
timbal balik. Hubungan inilah yang mengakibatkan manusia memiliki karakteristik
berbeda-beda disetiap wilayahnya. Aktivitas penduduk di suatu daerah sangat
dipengaruhi oleh kondisi geografis terutama kondisi fisiknya. Kondisi geografi
fisik tersebut meliputi kondisi iklim, topografi, jenis dan kualitas tanah,
serta kondisi perairan.
Kondisi daratan dengan segala kenampakannya merupakan tempat
tinggal manusia dengan segala aktivitasnya. Mulai dari ketinggian paling rendah
yang terletak di pantai sampai daerah puncak gunung.
A. Kondisi Wilayah Pegunungan
Pegunungan merupakan deretan atau
rangkaian gunung yang tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Pegunungan
memiliki ketinggian 500 m di atas permukaan laut. Daerah pegunungan bisa berupa
pegunungan berapi yang masih aktif, pegunungan ataupun pegunungan kapur. Untuk
daerah pegunungan, secara umum masyarakatnya adalah petani, yang tentu saja
pola pertaniannya berbeda-beda sesuai dengan kondisi pegunungan
tersebut.Petani biasanya menanam
palawija, sayur-mayur dan bunga. selain itu, ada juga petani yang bertanam
berupa perkebunan, misalnya teh, kopi, cengkeh, pala dan buah-buahan.
Daerah pegunungan mempunyai iklim yang cukup dingin. Kondisi
demikian cocok untuk memelihara ternak. misalnya sapi perah, kambing, kelinci,
ayam pedaging dan ayam petelur. Untuk pola permukiman penduduk sangat
dipengaruhi oleh kondisi topografi dan tingkat kesuburan tanah. Pola pemukiman
penduduk di daerah pegunungan biasanya menyebar mengikuti lereng dan
mengelompok pada daerah yang mempunyai lahan subur dan relatif datar.
B. Kondisi Wilayah Dataran Tinggi
Dataran tinggi adalah bentuk muka bumi yang relatif datar
yang letaknya di daerah yang tinggi yaitu memiliki ketinggian antara 700-800
meter di atas permukaan laut. Wilayah Indonesia pada daerah dataran tinggi memiliki sistem pegunungan yang memanjang dan
masih aktif. Relief daratan dengan banyaknya pegunungan dan perbukitan,
menyebabkan Indonesia memiliki kesuburan tanah vulkanik, udara yang sejuk, dan
alam yang indah.
Relief daratan dengan
banyak pegunungan dan perbukitan memiliki udara yang subur dan udara yang sejuk
sehingga sangat diminati penduduk yang kegiatan utamanya di bidang pertanian. Penduduk
daerah pegunungan juga banyak yang memanfaatkan suhu udara yang dingin untuk
menanam sayuran dan tanaman perkebunan. Selain itu, relief daratan yang demikian
juga memiliki potensi menjadi daerah pariwisata.
C. Kondisi Wilayah Dataran Rendah
Dataran rendah merupakan daerah datar yang memiliki
ketinggian hampir sama, yaitu 0-200 m di atas permukaan laut. Dataran rendah di
Indonesia kebanyakan berupa dataran rendah alluvial, yaitu dataran rendah yang
terbentuk akibat pengendapan hasil proses sedimentasi sungai. Oleh karena itu,
umumnya daearah dataran rendah dijadikan sebagai tempat permukiman penduduk,
mendirikan pabrik, membangun gedung, dan membangun jalan raya.
D. Kondisi Wilayah Pantai
Pantai adalah bagian daratan yang berbatasan dengan laut.
Penduduk daerah pantai mempunyai karakteristik yang disesuaikan dengan keadaan
daerahnya. Penduduk memilih mata pencaharian mereka sesuai dengan ketersediaan
yang terkandung di alam. Sebagian besar penduduk memilih bekerja sebagai
nelayan dibandingkan bercocok tanam. Hal ini disebabkan kondisi tanah yang
kurang baik untuk dimanfaatkan untuk bercocok tanam.
IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan
uraian yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada
konsep agrohidrologi yang mana siklus air pada konsep pertanian ini mencakup pengolahan
tanah pada masing-masing tanah yang mempunyai cara berbeda-beda, tergantung
pada sifat fisik dan kimia tanah, serta ketersediaan air untuk memenuhi
kebutuhan tanaman.
2. Tanah sangat penting untuk tanaman karena akan
dimanfaatkan untuk media tumbuh dan juga sebagai media dalam penyerapan air dan
unsur hara demi pertumbuhan tanaman
3. Kebutuhan air tanaman mempunyai
kebutuhan air yang berbeda pada stadia pertumbuhan yang berbeda.
4. Kondisi
wilayah akan mempengaruhi terhadap proses pertumbuhan tanaman dimana pada
kondisi wilayah yang termasuk ke dalam dataran tinggi akan mempunyai suhu yang relatif
jauh lebih rendah dibandingkan dengan suhu yang ada di permukaan dataran
rendah.
4.2 Saran
Sebaiknya dalam
mendeskripsikan aspek yang menjadi pembahasan, sebaiknya disediakan jurnal
penelitian dan juga buku sumber yang berkaitan dengan pembahasannya. Diperlukan
pula perbaikan dari dosen mata kuliah yang akan memeriksa dan memberikan solusi
akan permasahan yang akan terjadi dimasa depan.
V. DAFTAR PUSTAKA
Aris, Bambang.
2002. Teknik Drainase Bagian Pertama. Teknotan Universitas Padjadjaran :
Bandung
Bach, W. 1989. Growing consensus and challenge
regarding a green house climate. Di dalam Climate and Food Security.
IRRI-AAAS.
Bantaran de Rozari. M., Koesoebiono,
Sinukaban, N., Murdiyarso D. & Makarim K. 1990. Assessment of socio economic impacts
of climate change in Indonesia.
Dasar-dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta. Hanafiah, K. A. 2004.
Delya,buti.
2011. http:// www. Academia .edu/5170 360/hubun gan_tanah
_tanaman _tanah_dan _air. Diakses pada tanggal
8 februari 2015.pukul 21.55 WITA.
Suwardi,dkk.
2000. Morfologi dan Klasifikasi Tanah.
Bogor:Institut Pertanian Bogor