Menjadi petani bukan berarti tak bisa
berinovasi. Baharuddin Kallado telah membuktikan, meski berprofesi
sebagai petani namun pria asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan ini
mampu menciptakan teknik okulasi untuk memperbanyak produksi buah kakao
dengan menggunakan lima varietas pada satu pohon.
Lahir di Maroangin, Kota Palopo, Sulsel 45 tahun lalu,
Baharuddin Kallado dikenal sebagai petani yang berhasil melaksanakan
diversifikasi usaha. Di samping padi, ia juga mengusahakan aneka
tanaman sayuran (tomat, cabe, paria, mentimun, bawang merah), tanaman
perkebunan (kakao, cengkeh, durian) serta kegiatan pemeliharaan ternak
(itik, burung belibis, ikan mas).
Saat ini luas tanaman kakaonya sudah mencapai 3 hektar di
mana kesemuanya dalam kondisi sudah direhabilitasi. Tanaman padi yang
mencapai luasan 1 hektar dibudidayakannya dengan menggunakan teknik
jajar legowo 4:1, 2:1, 3:1, varietas inpari 1 disertai kegiatan
pemupukan organik berimbang. Tanaman sayuran di lahan seluas 0,25
hektar juga dipupuk menggunakan pupuk organik buatan sendiri dengan
bahan baku campuran dedaunan dan limbah kulit coklat.
Tak puas hanya melaksanakan usaha tani menggunakan teknologi
anjuran pemerintah yang diperoleh dari kegiatan pelatihan, ayah empat
anak yang bertempat tinggal di Desa Salu Bua, Kecamatan Suli Barat Luwu
ini terus berupaya berinovasi merakit teknologi sendiri dan kemudian
diuji coba di lahannya.
Salah satu temuannya yang telah diapresiasi oleh pemerintah
dengan pemberian sertifikasi adalah teknologi okulasi dengan lima
varietas pada satu pohon coklat. Menurut Baharuddin Kallado, teknologi
temuannya ini sudah diuji coba di lahan kakaonya dan ternyata mampu
menjadikan tanaman kakaonya menghasilkan produksi buah kakao yang lebih
tinggi.
Perangkap Lalat Buah
Teknik okulasi dengan banyak varietas relatif tak sulit
dalam pengaplikasiannya, karena itu setelah disosialisasikan secara
meluas saat ini sudah banyak diterapkan oleh petani kakao di daerahnya
dengan hasil produksi kakao mencapai 800 kg/ha/tahun. Dengan menerapkan
teknologi temuannya, ia memperkirakan produksi kakao di kebun milik
pribadinya meningkat sekitar 60 persen.
Bukan hanya di budidaya tanaman kakao, inovasi teknologi
juga dikembangkan untuk dapat melakukan perlindungan tanaman
hortikultura yang diusahakannya. Pria yang sudah 13 tahun bergerak di
bidang usaha pertanian ini merancang teknik pengendalian hama pada
tanaman sayuran dengan cara sederhana dan praktis.
Dalam hal ini, Baharuddin merancang perangkap (bubu) lalat
buah yang dibuat dari botol aqua kosong yang dipotong bagian bahunya dan
diberi larutan petrogenol. Dengan alat ini lalat akan terperangkap
karena aroma dari petrogenol sama dengan aroma induk betina sehingga
induk jantan masuk ke dalam botol dan dalam 2-3 hari kemudian lalat akan
mati karena tidak mendapat asupan makanan dan minuman. Pengaplikasian
cara ini terbukti dapat menurunkan serangan lalat buah secara drastis.
Piawai berusaha tani dan banyak berkreasi menghasilkan
teknologi tepat guna menjadikan Baharuddin tempat bertanya bagi banyak
petani di daerahnya, sampai kemudian ia dipercaya menjadi ketua kelompok
tani serta gabungan kelompok tani (Gapoktan). Tak mengherankan bila ia
juga banyak memperoleh penghargaan dari pemerintah daerah hingga tingkat
nasional. Setelah mendapat penghargaan sebagai Petani Berprestasi
Tingkat Kabupaten di tahun 2012, pada tahun 2013 ia masuk dalam jajaran
penerima penghargaan sebagai Petani Berprestasi Tingkat Nasional.
Selamat Pak Baharuddin, kreasimu terus kami tunggu...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar